oleh

P3E Sulawesi Maluku Gelar Kampanye Virtual Peduli Sungai Jeneberang

GAMASI. COM, MAKASSAR – Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi & Maluku (P3ESuMa) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar Kampanye Peduli Sungai Jeneberang secara virtual dengan melibatkan peserta diskusi dari unsur pemerintah, organisasi lingkungan dan masyarakat, rabu (1/7/2020).

DR.Ir. Darhamsyah, M.Si, Kepala pusat pengendalian pembangunan ekoregion sulawesi dan maluku mengatakan, pihaknya sementara menggandeng Partisipasi masyarakat dalam menjaga sungai, “Peran masyarakat dalam pemberdayaan adalah mengembangkan kemampuan masyarakat untuk berperan aktif dengan sasaran yang dicapai adalah terbentuknya akses informasi, peningkatan pengetahuan dan keterampilan dan penuntasan kemiskinan,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Darhamsyah, sasaran yang ingin dicapai untuk terwujudnya kesadaran dalam PPLH adalah mampu memperjuangkan haknya untuk mendapatkan Lingkungan Hidup yang baik.
“Pendekatan manfaat untuk memberi manfaat positif terhadap perlindungan dan pengelolaan serta pendekatan ekonomi ini yang kami tengah lakukan.”

Narasumber lainnya, Kepala Balai Litbang LHK makassar, Ir.Misto, MP mengenalkan Maggot. Maggot adalah larva dari jenis lalat besar berwarna hitam yang bisa menjadi sahabat lingkungan.

“Manfaat budidaya maggot adalah perbaikan lingkungan, mengkonsumsi sampah organik karena Setiap 10 ribu ekor mampu konsumsi sampah organik 1 kg per jam. Lalat ini bukan vektor penyakit karena tidak makan selama hidup dan bisa jadi pakan ternak,” ungkap Misto.

Misto menjelaskan data 2019 Indonesia memproduksi sampah 68 juta ton per tahun untuk jenis organik, plastik, kertas dan sampah lainnya.
“Tingkat kepedulian masyarakat terhadap sampah 71 % dan tahun 2024 menargetkan 100 % terkelola. Namun hingga saat ini evaluasi terhadap pengelolaan sampah 7 % tidak dikelola, dibuang ke sungai 3%, dibakar 5%. Sampah anorganik spt Plastik sebanyak 60-70% dibawa ke TPA , 15-30% terbuang ke lingkungan.
Sementara organik hingga saat ini belum ada data berapa persen terolah alasannya mengapa belum terolah karena bau, becek, kotor dan nilai ekonomi yg belum jelas.”

Kegiatan diskusi virtual tersebut dipandu Kaharuddin Muji selaku wakil Foundation yang sekaligus menerima
piagam penghargaan atas ketokohan dan keteladan menjadi inpirasi untuk masyarakat. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala pusat pengendalian pembangunan ekoregion sulawesi dan maluku. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed