Gamasi, Makassar – Andi Kasri Unru, atau akrab disapa Akas, pengacara muda berusia 31 tahun yang lahir Tuli, mendorong Telkomsel menghadirkan layanan yang lebih inklusif. Menurutnya, kebutuhan komunikasi teman Tuli berbeda karena mengandalkan video call dengan bahasa isyarat, sehingga kuota internet lebih boros dibanding pengguna dengar.
“Teman dengar cukup pakai telepon suara, tidak banyak kuota. Kami Tuli harus video call, itu boros sekali,” ujar Akas melalui chatingan di WhatsApp.
Sejak 2010, Akas setia menggunakan layanan Telkomsel. Ia menilai aplikasi MyTelkomsel menjadi solusi utama untuk membeli paket data hingga menyampaikan kebutuhan melalui fitur live chat. “Aplikasi ini tidak ada kendala. Kendala justru muncul ketika pihak Telkomsel menghubungi lewat telepon. Untung ada fitur live chat, sangat membantu,” ujarnya.
Meski begitu, ia berharap ada kebijakan kuota inklusif yang memberi konsesi khusus bagi pengguna Tuli. “Bukan sekadar angka, tapi wujud keadilan komunikasi,” tambahnya.
Terkait layanan juru bahasa isyarat di GraPARI, Akas menyambut dengan optimisme. Ia menilai hal itu sebagai langkah maju yang patut diapresiasi. “Kalau benar ada, itu progres luar biasa. Artinya Telkomsel melihat bahwa customer Tuli punya hak yang sama,” ungkapnya.

Namun, ia mengusulkan setidaknya ada satu GraPARI inklusif di setiap pusat kota atau outlet besar, sehingga layanan ramah difabel lebih mudah dijangkau.
Akas kini berkarier di AVYA Law Firm Jakarta dengan fokus pendampingan pro-bono bagi kelompok rentan. Meski sibuk di ibu kota, ia rutin pulang ke Sulawesi Selatan untuk kembali ke keluarga dan budaya. (*)





