Di Makassar, Ahmadiyah Paparkan Perjalanan dan Peran Selama Satu Abad

Gamasi, Makassar, 3 April 2026 — Muslim Ahmadiyah di Indonesia telah hadir sejak tahun 1925 dan kini genap berusia 100 tahun. Selama satu abad, komunitas ini disebut memiliki peran dalam penyebaran Islam, perjuangan kemerdekaan, serta berbagai kegiatan sosial di Indonesia.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Jurnalisme Konstruktif bertajuk “Studi Kasus Muslim Ahmadiyah di Indonesia & Global” dalam program LIVE IN bersama jurnalis Sulawesi Selatan. Kegiatan ini bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, Jumat (3/4/2026), di Kantor Jemaat Ahmadiyah Makassar, Masjid An-Nushrat, Jalan Annuang No. 112, Kota Makassar.

Sekretaris Pers dan Juru Bicara Nasional Ahmadiyah, Yendra Budiana, mengatakan bahwa sejak sebelum kemerdekaan, Muslim Ahmadiyah telah berkontribusi dalam penyebaran Islam melalui penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an. Selain itu, mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial seperti donor mata, donor darah, pelestarian lingkungan, penyediaan rumah belajar, hingga penanganan bencana di berbagai daerah.

“Setiap rumah dan masjid warga Ahmadiyah, yang dibaca, dihafal, dan dikaji adalah Al-Qur’an yang sama dengan umat Islam lainnya, yakni 30 juz dan 114 surah,” kata Yendra.

Ia menambahkan, salah satu upaya yang terus dilakukan adalah mengurangi prasangka di tengah masyarakat terhadap komunitas Ahmadiyah. Menurutnya, seluruh anggota Ahmadiyah didorong untuk mengimplementasikan nilai-nilai kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa penerjemahan Al-Qur’an oleh Ahmadiyah telah dilakukan ke dalam lebih dari 100 bahasa di dunia, dan beberapa di antaranya menjadi referensi di Kementerian Agama.

Selain itu, ditegaskan bahwa rukun iman dan rukun Islam yang dianut Muslim Ahmadiyah sama dengan umat Islam pada umumnya, dengan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir dan Al-Qur’an sebagai kitab suci.

Momentum 100 tahun Ahmadiyah di Indonesia ini diharapkan tidak hanya menjadi peringatan historis, tetapi juga menjadi ajakan untuk memperkuat nilai toleransi, kemanusiaan, dan kolaborasi di tengah masyarakat yang beragam.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *