Gamasi, Makassar – Gerobak jajanan sekolah di Jalan AP Pettarani, tepatnya di depan MAN 2 Makassar maupun MTsN 1 Makassar yang bertuliskan Cammojie, kerap diserbu pelajar ketika lonceng pulang berdering.
Pentol telur dan pentol ayam ludes dalam hitungan menit. Di tengah-tengah antrean pembayaran tunai yang disiapkan, muncullah kode QR untuk kelancaran transaksi tanpa mengganggu barisan yang semakin panjang. sat set, hanya memindai kode QR melalui smartphone siswa.
Irwan Mansyur selaku pedagang UMKM tersebut mengaku sudah 2 tahun menyiapkan layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di gerobaknya. Dialah pelopor diantara para pedagang jajanan sekolah lainnya yang telah lebih dulu menyediakan layanan pembayaran nontunai di kawasan tersebut.
Sebelum layanan QRIS ia terapkan, Irwan mengaku sering mengalami kendala. Seperti kesulitan mencari uang kembalian sementara pelanggan lainnya sudah menunggu untuk dilayani.
Sekarang pembeli tinggal scan Barcode atau Kode QR saja. Perubahan tersebut bagi pedagang seperti Irwan sangat membantu, yakni memudahkan transaksi lebih cepat, risiko uang palsu bisa diminimalkan, dan pelanggan memiliki beragam pilihan cara pembayaran.
“Mayoritas pembeli sudah terbiasa menggunakan transaksi non-tunai. Bahkan, pembeli cenderung berbelanja lebih banyak ketika menggunakan QRIS,” ujar Irwan, Jumat (4/9/2026).
Dalam 1 hari, keuntungan Cammoji kurang lebih Rp500 ribu sampai Rp1,2 juta.
Itulah gambaran kecil dari pedagang pentol sekolahan ke perubahan yang berdampak besar. QRIS bukan hanya dari sekadar alat transaksi di pasar modern atau Mall, namun kini telah merambah ke dalam transaksi ekonomi lebih dekat ke dalam hidup masyarakat.
Transformasi itu tercatat melalui data di Bank Indonesia. Khusus di Sulsel per Juni 2006, data transaksi QRIS menyentuh angka 28.8 juta transaksi, ini tumbuh 139.6% per tahunnya.
Namun nilai tersebut akan lebih bermakna jika dibandingkan dengan total pemakainya. Pengguna QRIS sampai Juni 2026 menyentuh 1,48 juta.
Perbedaan tersebut menunjukkan satu hal penting bahwa masyarakat yang sudah menggunakan QRIS tidak sekadar bertambah, tetapi semakin sering menggunakannya.
Keistimewaannya, digitalisasi pembayaran di Sulsel tengah bergerak tidak lagi sekadar mengenalkan teknologi pembayaran tetapi sudah mengubah perilaku dalam bertransaksi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda memaparkan, pertumbuhan tersebut memperlihatkan penerimaan masyarakat yang makin tinggi pada pembayaran digital untuk kegiatan ekonomi setiap harinya. “Peningkatan frekuensi transaksi memberikan nilai ekonomi yang signifikan. Nilai transaksi QRIS dari bulan Januari hingga Juni 2026 mencapai Rp2,57 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 83% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya.

Untuk perekonomian daerah, nilai ini bukan hanya catatan transaksi digital. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin banyak kegiatan jual beli masyarakat yang dilakukan lewat saluran pembayaran resmi dan dicatat dengan cara digital.
Rizki menjelaskan jumlah merchant QRIS sudah mencapai 1,46 juta merchant, tumbuh 16.5% secara tahunan, sehingga kesempatan pengguna untuk melakukan transaksi secara digital semakin banyak dan tercatat pula secara digital. “Pencapaian ini sudah sangat mendekati target penuh untuk tahun 2026. Saat ini, tingkat penggunaan mencapai 93,45% untuk pengguna dan 97,93% untuk merchant, sementara volume transaksi mencapai 96,99% dari target, “ sebutnya.
Revolusi sistem pembayaran digital tersebut dianggap sebagai sinyal baik. Hambatannya sekarang beralih ke jaminan apakah revolusi tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing para pelaku usaha sekaligus menjamin keamanan pelanggan.
Pengamat ekonomi dan akademisi dari Universitas Fajar Makassar, Dr. Rosnaini Daga, memandang QRIS sebagai alat yang membantu UMKM berkembang. Dr. Rosnaini Daga menekankan bahwa QRIS dapat memperluas pasar bagi UMKM.
“Penggunaan QRIS memberikan kemudahan, kecepatan, dan efisiensi dalam transaksi. Bagi UMKM, digitalisasi pembayaran bukan hanya soal mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar,” ujarnya.
Rosnaini memaparkan, transaksi yang dicatat dengan cara digital mendukung pelaku UMKM menelaah arus pemasukan dengan lebih tertib. Data transaksi merupakan landasan untuk pelaku UMKM dalam meninjau usaha serta menetapkan keputusan yang lebih terukur.
Namun di sisi lain, meningkatnya volume transaksi menggunakan perangkat digital akan membuat kebutuhan peningkatan literasi keuangan, digital, konsumen juga akan semakin meningkat.
“QRIS harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem digital UMKM. Semakin banyak pelaku usaha yang mampu memanfaatkan teknologi secara tepat, semakin besar pula peluang UMKM untuk berkembang, memperluas pasar, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Dalam era digitalisasi yang pesat, Rupiah senantiasa berperan sebagai landasan sistem pembayaran Indonesia. QRIS tidak menjadi pengganti Rupiah, namun mendatangkan strategi cara baru memakai Rupiah dengan yang lebih selaras akan kemajuan kebutuhan masyarakat.
Irwan pedagang pentol Cammojie sudah merasakan cara bertransaksi digital yang sekaligus juga memudahkannya menghemat waktu, mudahkan konsumennya dalam berbelanja, dan memberikan ruang baginya untuk tumbuh dan berkembang di era digital.
QRIS tidak hanya menghadirkan kenyamanan dan keamanan dalam proses pembayaran di era perkembangan transaksi digital. Lebih dari sekadar alat pembayaran, QRIS telah menjadi pilar bagi perluasan inklusi keuangan yang berjalan beriringan dengan aspek keamanan, literasi keuangan, dan perlindungan konsumen. QRIS mampu memberikan landasan yang kuat bagi pengembangan ekonomi yang lebih inklusif dengan membuka peluang akses ke sektor keuangan bagi masyarakat di Sulawesi Selatan. (Mila)





