QRIS di Tengah Pinus Desa Bissoloro, Perempuan dan Ekonomi Digital yang Tumbuh dari Tanah Gowa

Di antara kabut dan aroma pinus yang basah, Desa Bissoloro di lereng Kabupaten Gowa menyimpan kisah perubahan yang tak biasa. Bukan dari kota, melainkan dari seorang perempuan mantan jurnalis yang memilih kembali ke desa. Lewat tenda-tenda glamping dan teknologi QRIS di ujung sinyal pegunungan, ia menyalakan harapan bahwa masa depan bisa dimulai dari tempat yang paling sederhana.

Gamasi, Gowa Sulawesi Selatan – Di tengah rimbunnya pepohonan pinus dan sejuknya udara pegunungan Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tersembunyi sebuah oase kecil bernama Pinuslo Glamping Bissoloro. Kawasan ini bukan hanya memanjakan pengunjung yang senang berkemah dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan kisah tentang perubahan, ketekunan, dan teknologi digital yang mengakar di tengah hutan.

Di sanalah Dwiyani Prihatin, seorang perempuan tangguh, mantan jurnalis dari salah satu media terkemuka di Makassar, memulai babak baru hidupnya. Ia tidak lagi memburu berita di balik meja redaksi, melainkan membangun kehidupan baru lewat usaha glamping (glamorous camping) yang ia rintis sejak 2024 bersama suaminya. Di balik tenda-tenda estetik dan lampu-lampu gantung, tumbuh harapan dan ekonomi yang menjalar diam-diam namun pasti.

“Saya ingin menciptakan sesuatu yang bukan cuma menghidupi saya, tapi juga bisa menghidupkan desa ini,” ujar Dwiyani yang akrab disapa Wiwik, sambil menyeduh kopi saring untuk tamu-tamunya yang baru tiba dari Makassar. “Dulu saya menulis cerita orang lain. Sekarang saya ikut menciptakannya.”

Dari Keraguan ke Keberanian

Keputusan meninggalkan dunia jurnalistik sejak tahun 2016 bukan hal mudah bagi Wiwik. Ia merasa terpanggil untuk sesuatu yang lebih nyata dan berdampak langsung. Desa Bissoloro, yang berjarak sekitar 1,5 jam dari Kota Makassar, baginya adalah tempat ideal untuk menyemai mimpi baru. Alamnya asri, warganya ramah, dan potensinya besar, sayangnya belum banyak disentuh.

“Awalnya cuma dua tenda saja untuk tempat healing. Akhirnya dikembangkan jadi beberapa tenda besar dan ternyata, yang saya bangun bukan hanya tempat, tapi ekosistem,” katanya.

Dari Jagung, Padi, dan Gula Aren ke Ekowisata Digital

Mayoritas warga Desa Bissoloro bekerja sebagai petani jagung pakan, petani padi tadah hujan, dan pengrajin gula aren. Selama bertahun-tahun, mereka mengandalkan hasil bumi dengan akses pasar dan infrastruktur yang terbatas. Dwiyani melihat peluang lain yakni wisata alam.

Namun membangun usaha wisata di kawasan pegunungan tidak mudah. Jalan desa menuju lokasi Pinuslo Glamping berupa tanjakan dan tikungan tajam khas kawasan dataran tinggi. Salah satu kontribusi awal dari pihaknya adalah membangun dan memperbaiki infrastruktur jalan desa agar lebih aman dan nyaman dilalui wisatawan.

“Kami mulai dari hal kecil. Jalan yang dulu rusak, sekarang kami mulai benahi. Itu modal dasar kalau ingin mengajak orang luar datang dan tinggal di sini,” kata Wiwik.

Di awal, semua dijalankan serba manual. Pembayaran hanya tunai, pencatatan dilakukan dengan buku kecil, dan promosi lewat mulut ke mulut. Tapi di tengah perubahan perilaku konsumen, terutama anak muda urban yang terbiasa hidup digital, keterbatasan ini menjadi tantangan.


Dari Tenda ke Transaksi Digital

Perubahan besar terjadi saat Dwiyani menerapkan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Pinuslo, sebagai sistem pembayaran digital yang dicanangkan Bank Indonesia sebagai bagian dari upaya inklusi keuangan nasional.

“Meski kami belum mendapatkan pembinaan dari Bank Indonesia, namun sistem non tunai sudah kami jalankan disini. Sistemnya simpel, cepat, dan aman. Saya tidak perlu lagi repot cari kembalian atau ke ATM. Semua terekam, semua bisa dipantau,” katanya sambil menunjukkan histori transaksi di ponselnya.

Kini, semua transaksi di Pinuslo Glamping bisa dilakukan secara digital, dari sewa tenda, hingga pemesanan kopi lokal. QRIS hadir sebagai jembatan antara keindahan alam dan efisiensi ekonomi.

Ekosistem Gotong Royong Berbasis QRIS

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, QRIS adalah langkah nyata untuk menjangkau pelaku ekonomi hingga ke pelosok desa.

“Inklusi keuangan bukan soal memperkenalkan teknologi canggih, tapi soal bagaimana kita membuat masyarakat di desa bisa terlibat dan merasakan manfaat langsung dari sistem keuangan digital,” ujarnya.

Rizki menambahkan, Per Februari 2025, volume transaksi QRIS Sulawesi Selatan mencapai 7,87 juta transaksi, sedangkan nominal transaksi QRIS mencapai Rp967,30 miliar. Volume transaksi QRIS tumbuh 134,42 persen (yoy) dan nominal transaksi QRIS tumbuh 111,46 persen (yoy).

“Capaian tersebut, juga berkat peran pelaku usaha untuk beralih ke transaksi digital dan memanfaatkan besarnya generasi produktif di Sulsel,” ujarnya.

Di tempat-tempat seperti Pinuslo ini, QRIS bukan cuma alat transaksi, tapi alat pemberdayaan. Karena setiap transaksi yang tercatat memberi dasar bagi pelaku usaha untuk tumbuh baik secara finansial maupun dalam hal kepercayaan dari konsumen dan lembaga keuangan.
“Yang penting bukan seberapa canggih teknologinya, tapi seberapa banyak masyarakat di desa bisa memanfaatkannya,” ujar Rizki.

Data dari Bank Indonesia Sulsel, khusus di Kabupaten Gowa, edukasi dan pembinaan telah dilakukan di beberapa tempat dan event. Yakni, Event Beautiful Malino, Gerakan QRIS dan CBP Rupiah Goes to Campus Universitas Hasanuddin Kampus Teknik Gowa, Edukasi QRIS & CBP Rupiah Goes to school (BI Mengajar) di SMKN 1 Gowa, Sosialisasi QRIS di SMK 1 GOWA, BI Mengajar QRIS & CBP Goes to School SMKT Somba Opu dan Edukasi QRIS, PekA, Anti Judi Online & CBP Rupiah kepada Finalis Duta Wisata Gowa 2024.

Membangun dari Akar, Komunitas yang Dikuatkan

Usaha glamping milik Wiwik ini bukanlah usaha satu orang. Dia bekerjasama dengan Daeng Siaba, warga setempat selaku pemilik lahan. Selain itu, kehadiran warga sekitar sejak awal, dimana anak muda membantu membangun aula di awal berdiri sekaligus membantu membersihkan sampah-sampah di lokasi wisata.

“Setiap transaksi lewat QRIS langsung tercatat, dan dari situ kami bisa transparan bagi hasil ke para pekerja disini” ujar Wiwik.

Wisata yang Menghidupkan, Teknologi yang Menyambungkan

Tiap akhir pekan, tenda-tenda glamping selalu penuh. Bahkan, turis asing mulai berdatangan karena tertarik pada konsep perkemahan alami yang tetap nyaman dan estetis . Tenda-tenda berukuran 60–100 m² itu dilengkapi kasur empuk, toilet portable, hingga pencahayaan hangat di tengah hutan pinus tropis.
Masing-masing tenda, berkapasitas 6–8 orang, Namun lebih dari sekadar kenyamanan, pengalaman yang ditawarkan adalah keintiman dengan alam dan komunitas lokal.

Wiwik tak hanya membuka lapangan kerja baru, tapi juga membuka cakrawala berpikir. Dari desa kecil di kaki gunung, ia membangun jembatan antara teknologi dan tradisi, antara lokalitas dan digitalisasi.

Harapan dari Lereng Pegunungan

Kisah Wiwik dan Pinuslo Glamping adalah satu dari ribuan wajah perubahan yang lahir dari desa-desa di Sulsel, didorong oleh kolaborasi antara tekad masyarakat, teknologi digital, dan kehadiran negara melalui lembaga seperti Bank Indonesia.

QRIS, bagi sebagian orang mungkin hanyalah kode yang dipindai di warung atau kasir. Tapi bagi banyak warga desa seperti di Bissoloro, QRIS adalah lambang keterlibatan, akses ke dunia baru yang dulunya tampak jauh dan asing.

Dan di tengah desir angin pinus dan kopi yang disajikan hangat di tenda, Wiwik tahu bahwa ia telah kembali menemukan perannya. Peran tersebut bukan lagi sebagai pencatat kisah, tapi sebagai pelaku dari cerita yang lebih besar, yakni tentang desa, tentang perempuan, dan tentang harapan yang bisa tumbuh dari akar yang paling sunyi.

Dengan semangat warga, sokongan teknologi, dan dukungan lembaga seperti Bank Indonesia, Bissoloro bukan lagi hanya tempat tenang di pegunungan. Ia kini menjadi simbol kebangkitan ekonomi desa berbasis digital. (Mila)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *