Bank Indonesia Sulsel Apresiasi Kinerja Setahun MULIA, Ekonomi Makassar Lampaui Nasional

Gamasi, Ricky Satria, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, menilai satu tahun kepemimpinan MULIA menjadi titik balik bagi Kota Makassar. Hal itu disampaikannya dalam talkshow “Satu Tahun Kepemimpinan MULIA” yang digelar di Lapangan Karebosi, Jumat (20/2/2026).

Menurut Ricky, satu tahun memang waktu yang singkat, namun cukup untuk menunjukkan arah perubahan.

“Jika kita melihat apa yang terjadi di Makassar dalam satu tahun terakhir, satu hal sangat jelas: Makassar tidak berjalan di tempat. Makassar melangkah maju,” tegasnya.

Di tengah tekanan ekonomi global, perlambatan negara-negara besar, serta ketidakpastian geopolitik, Makassar justru menunjukkan ketangguhannya.

Data per Maret 2025 mencatat pertumbuhan ekonomi Makassar mencapai 5,39 persen (year on year). Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional sebesar 5,01 persen dan Sulawesi Selatan sebesar 5,04 persen. Capaian tersebut juga melampaui pertumbuhan 2024 yang berada di kisaran 5,1–5,2 persen.

“Artinya, Makassar tumbuh lebih tinggi dari rata-rata nasional dan provinsi. Dan ini bukan sekadar angka kosong,” ujar Ricky.

Pertumbuhan itu mulai berdampak nyata. Tingkat kemiskinan turun dari 4,97 persen pada 2024 menjadi 4,43 persen pada 2025. Tingkat pengangguran juga menurun dari 9,71 persen menjadi 9,6 persen pada periode yang sama.

“Inilah pertumbuhan yang mulai terasa dampaknya, meskipun baru satu tahun,” tambahnya.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi Makassar pada 2025 tercatat 1,19 persen. Angka ini berada dalam rentang target nasional 2,5 persen ±1 persen, serta lebih rendah dibanding inflasi nasional (2,92 persen) dan provinsi (2,68 persen).

Ricky menyebut capaian tersebut bukan kebetulan. Salah satu strategi kunci adalah gerakan pangan murah yang digelar secara masif dan langsung menyentuh masyarakat. Makassar bahkan menjadi daerah pertama yang mengintegrasikan transaksi non-tunai dalam program tersebut.

“Ibu-ibu membeli beras, gula, dan minyak dengan harga terjangkau, sekaligus membayarnya secara non-tunai yang tertib dan transparan. Ini kombinasi kebijakan sosial dan digitalisasi,” jelasnya.

Model itu kini direplikasi di sejumlah kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

Dengan pertumbuhan yang stabil dan inflasi terkendali, dinamika kota semakin berkembang. Makassar tak hanya dikenal sebagai kota perdagangan dan budaya, tetapi juga tumbuh sebagai kota wisata dan urban lifestyle.

Berbagai kegiatan seperti fun run, fun bike, komunitas otomotif, konser musik, festival kuliner, hingga event ekonomi kreatif berkembang pesat. Aktivitas tersebut tidak sekadar hiburan, tetapi juga menggerakkan ekonomi dan mempercepat digitalisasi transaksi.

“Hotel, restoran, UMKM, transportasi hingga pelaku kreatif kini banyak bertransaksi secara non-tunai. Makassar bukan hanya kota kerja, tapi kota yang hidup dan digital,” ujarnya.

Ricky menyebut sedikitnya empat faktor yang mendorong capaian Makassar saat ini. Salah satunya adalah transformasi digital yang dimulai dari perubahan perilaku manusia, bukan sekadar adopsi teknologi.

Saat ini lebih dari 70 persen ASN Kota Makassar telah menggunakan mobile banking dan QRIS, sehingga menjadi role model bagi masyarakat.

“Digitalisasi tidak bisa dipaksakan. Harus dicontohkan,” tegasnya.

Perubahan tersebut tidak lepas dari dukungan kuat Wali Kota dan jajaran pemerintah kota dalam menjalankan program pemerintahan berbasis elektronik.

Dengan berbagai capaian tersebut, satu tahun kepemimpinan MULIA dinilai bukan sekadar fase awal pemerintahan, melainkan fondasi penting menuju Makassar sebagai kota modern, stabil, dan inklusif. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *