Gamasi, Makassar – Dalam upaya memperkuat kesiapan institusi menghadapi Monitoring dan Evaluasi Akreditasi Program Studi oleh LAMPT-Kes, Politeknik Kesehatan Megarezky menggelar kegiatan penguatan mutu akademik dengan menghadirkan Asesor LAMPT-Kes, dr. M. Furqaan Naiem, M.Sc., Ph.D sebagai pemateri utama. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Meeting Room Polimerz pada Rabu (13/05/2026) dan diikuti oleh Jajaran Pimpinan, Kepala Biro/Lembaga dan Unit, Prodi D-IV Keselamatan dan Kesehata Kerja, Prodi D-IV Promosi Kesehatan, Prodi D-III Teknologi Bank Darah, serta Prodi D-IV Manajemen Informasi Kesehatan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis institusi dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan sekaligus memperkuat pemahaman sivitas akademika terkait substansi penilaian akreditasi berbasis luaran (outcome based accreditation) yang diterapkan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAMPT-Kes).
Direktur Polimerz, Dr. Hairuddin K, S.S., S.KM., M.Kes. dalam sambutannya menegaskan bahwa proses akreditasi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan administrasi kelembagaan, melainkan sebagai instrumen evaluatif untuk memastikan kualitas tata kelola pendidikan tinggi berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
“Akreditasi merupakan bagian dari refleksi mutu institusi. Karena itu, seluruh unsur di lingkungan Polimerz harus memiliki kesadaran kolektif bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dibangun pada saat asesmen berlangsung, tetapi melalui budaya akademik yang konsisten, sistematis, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam bidang mutu pendidikan tinggi kesehatan diharapkan mampu memberikan penguatan perspektif serta strategi teknis kepada seluruh tim akreditasi program studi.
Dalam pemaparannya, Asesoe LAMPT-Kes, dr. M. Furqaan Naiem, M.Sc., Ph.D menekankan pentingnya kesiapan dokumen, konsistensi implementasi sistem mutu internal, serta sinkronisasi antara dokumen evaluasi diri dengan kondisi faktual di lapangan.
“Akreditasi sejatinya bukan hanya berbicara mengenai kelengkapan dokumen, tetapi bagaimana institusi mampu menunjukkan budaya mutu yang hidup dalam setiap aktivitas akademik maupun non-akademik. Konsistensi antara perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga tindak lanjut menjadi poin penting dalam proses monitoring dan evaluasi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan indikator luaran, seperti publikasi ilmiah, prestasi mahasiswa, kerja sama institusi, serta ketercapaian kompetensi lulusan sebagai bagian dari parameter utama dalam penilaian mutu pendidikan tinggi kesehatan saat ini.
Selain sesi pemaparan materi, kegiatan turut diisi dengan diskusi interaktif terkait strategi menghadapi monitoring dan evaluasi, penyusunan eviden pendukung, hingga optimalisasi peran unit penjaminan mutu dalam mendukung peningkatan kualitas program studi.
Kegiatan berlangsung dalam suasana akademik yang dinamis dan konstruktif. Melalui forum ini, Politeknik Kesehatan Megarezky menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berorientasi pada mutu, sejalan dengan tuntutan transformasi pendidikan kesehatan di tingkat nasional maupun global. (*)








