IKAPROBSI Gelar Rakernas X di Makassar, Perkuat Peran Bahasa Indonesia di Era Kompetisi Global

Gamasi, Makassar – Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X yang dirangkaikan dengan Seminar Internasional di Kota Makassar, 7–8 Agustus 2026.

Mengusung tema **“Penguatan Peran Bahasa Indonesia di Era Kompetisi Global”**, forum tersebut menjadi ruang strategis bagi pengelola program studi, akademisi, dosen, peneliti, mahasiswa, serta pemangku kepentingan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas masa depan bahasa Indonesia di tengah perkembangan teknologi dan persaingan global.

Pembukaan Rakernas X dan Seminar Internasional berlangsung di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Jumat (7/8/2026). Sementara rangkaian kegiatan hari kedua dijadwalkan berlangsung di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sabtu (8/8/2026), yang sekaligus menjadi tuan rumah penyelenggaraan forum nasional tersebut.

Ketua Umum IKAPROBSI, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., mengatakan Rakernas X merupakan kelanjutan dari Rakernas IX yang sebelumnya digelar di Malang. Dalam forum tersebut, Makassar ditetapkan sebagai tuan rumah Rakernas X.

Menurut Sarwiji, kepercayaan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Makassar untuk kembali menjadi tuan rumah Rakernas IKAPROBSI setelah penyelenggaraan sebelumnya pada 2016.

Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam Rakernas kali ini adalah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi dunia pendidikan, termasuk pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Sarwiji menegaskan, perkembangan AI merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Karena itu, dunia pendidikan tidak seharusnya menolak kehadiran teknologi tersebut, tetapi perlu menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.

“AI adalah suatu keniscayaan. Tidak mungkin kita mengingkari perkembangan teknologi. Yang harus dilakukan adalah memanfaatkannya sebagai tools atau alat bantu dalam pembelajaran,” ujar Sarwiji dalam konferensi pers di Hotel Four Points Makassar, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan, pemanfaatan AI dalam pendidikan bahasa menjadi salah satu materi yang dibahas dalam Rakernas. Pembahasan tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah maupun lembaga terkait dalam penyusunan kebijakan pendidikan.

Selain AI, Rakernas X IKAPROBSI juga membahas sejumlah agenda strategis, di antaranya Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) serta Standar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pembahasan tersebut diarahkan untuk mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Sekretaris Jenderal IKAPROBSI, Prof. Dr. Suherli Kusmana, M.Pd., menjelaskan bahwa organisasi tersebut kini secara resmi menggunakan nama **Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia**.

Meski mengalami perubahan nama secara resmi, kata Suherli, singkatan IKAPROBSI tetap dipertahankan karena telah dikenal luas di lingkungan akademik.

“Nama organisasi kami sekarang secara resmi adalah Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tetapi singkatan IKAPROBSI tetap digunakan karena sudah dikenal luas,” jelasnya.

Penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah juga menjadi salah satu perhatian utama dalam rangkaian kegiatan tersebut. Komitmen itu antara lain ditunjukkan dengan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam Seminar Internasional.

“Walaupun seminar ini berskala internasional, bahasa pengantarnya tetap bahasa Indonesia. Ini merupakan bentuk komitmen kami dalam menguatkan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan,” kata Sarwiji.

Seminar internasional tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari unsur pemerintah, legislatif, lembaga kebahasaan, dan perguruan tinggi. Di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Ketua Komisi X DPR, pimpinan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta akademisi dari Malaysia.

Sekitar 257 pemakalah turut ambil bagian dalam forum ilmiah tersebut melalui sesi pleno dan paralel, baik secara luring maupun daring.

Para pemakalah mempresentasikan berbagai hasil penelitian yang berkaitan dengan bahasa, sastra, pembelajaran, serta persoalan mutakhir dalam pendidikan bahasa Indonesia.

Menurut Sarwiji, seminar internasional dan Rakernas tidak hanya diarahkan untuk menjadi forum pertukaran gagasan akademik, tetapi juga menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan.

“Di akhir seminar internasional nanti kami akan menghasilkan rekomendasi yang disampaikan kepada Kementerian Pendidikan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam memperkuat kebijakan kebahasaan nasional,” ujarnya.

Ia menegaskan, rekomendasi tersebut menjadi salah satu keluaran penting dari Rakernas X IKAPROBSI. Organisasi tersebut berharap berbagai gagasan yang lahir dari forum akademik tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan maupun program konkret pengembangan bahasa Indonesia.

Berbagai sesi seminar juga diarahkan untuk membahas penguatan bahasa Indonesia dalam bidang pendidikan, penelitian, diplomasi, ekonomi, hingga pengembangan ilmu pengetahuan.

Hasil Rakernas X IKAPROBSI diharapkan dapat memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa pendidikan dan ilmu pengetahuan, sekaligus memperluas perannya dalam berbagai sektor strategis di tengah kompetisi global. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *