Gamasi, MAKASSAR – Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat akses pembiayaan sekaligus membuka peluang pasar global bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk UMKM asal Sulawesi Selatan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan KKI 2026 kembali digelar pada 20–23 Agustus 2026 dengan mengusung semangat Beudaya Meusare Sare yang berarti “Berdaya Bersama-sama”.
Sejalan dengan semangat tersebut, KKI 2026 turut menghadirkan Gebyar Pembiayaan melalui penandatanganan kesepakatan pembiayaan antara delapan lembaga keuangan dengan UMKM mitra masing-masing pada 21 Agustus 2026.
Delapan lembaga keuangan tersebut yakni BRI, BCA, BSI, Bank Mandiri, SMBC, Panin Bank, OCBC, dan BNI. Penandatanganan tersebut merupakan hasil fasilitasi business matching pembiayaan UMKM yang dilakukan Bank Indonesia.
“Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman.
Dari sisi supply, Bank Indonesia mendorong penyaluran pembiayaan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan kepada UMKM. Sementara itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) turut mendorong perluasan pembiayaan inklusif.
Dari sisi demand, digitalisasi pembayaran melalui QRIS dinilai mampu membantu membangun rekam jejak usaha UMKM sehingga dapat mendukung akses terhadap pembiayaan.
“Penguatan ekosistem pembiayaan UMKM ke depan memerlukan komitmen yang konsisten, inovasi yang adaptif, serta sinergi yang semakin erat antara Bank Indonesia, Pemerintah, sektor keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya,” kata Aida.
Hingga Juli 2026, fasilitasi business matching pembiayaan yang dilakukan Bank Indonesia telah mencapai Rp285 miliar. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan inklusif sebesar Rp150 miliar dan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp135 miliar.
Capaian tersebut diproyeksikan masih akan bertambah seiring dengan realisasi pembiayaan hingga akhir 2026.
Rizki menambahkan, tantangan pembiayaan UMKM tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana, tetapi juga kesiapan usaha, persepsi risiko, serta kemampuan mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan.
Karena itu, BI Sulsel terus memperkuat pengembangan UMKM dari sisi hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas UMKM, hingga perluasan akses pasar melalui program UMKM Rewako yang merupakan akronim dari Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgable.
Selain pembiayaan, BI Sulsel juga mendorong UMKM menembus pasar ekspor melalui kegiatan business matching ekspor di KKI 2026.
Sebanyak 14 sesi offline dan satu sesi online business matching ekspor difasilitasi bagi UMKM Sulsel. Peserta business matching secara offline antara lain Kopi Luwak Malino dari Gowa, CV Panrita Jaya Group, Kopivolusi Niwa Indonesia, Sehati Kopi, My Coffeeza Indonesia dari Enrekang, serta PT Bunly Abadi Bersama dari Makassar.
Sementara peserta business matching secara online yakni CV Al Razak Corp dari Enrekang.
Kegiatan Business Matching Ekspor KKI 2026 yang berlangsung pada 20–22 Agustus 2026 tersebut telah menghasilkan kesepakatan Letter of Intent (LOI) antara tujuh UMKM Sulsel dengan sejumlah pembeli dari luar negeri.
Potensi transaksi ekspor dari kesepakatan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp380,75 juta.
Tiga besar UMKM Sulsel berdasarkan nilai LOI yakni Kopi Luwak Malino dengan produk kopi Arabica Malino yang menjalin kerja sama dengan PT Cahaya Abadi Terbit dari Kanada senilai Rp245 juta.
Selanjutnya, CV Panrita Jaya Group dengan produk kopi Arabica Toraja dan Arabica Enrekang menjalin kerja sama dengan PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura senilai Rp92,25 juta. Kemudian Kopi Luwak Malino dengan PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura dengan nilai Rp32 juta.
Tidak berhenti pada LOI, sejumlah produk UMKM Sulsel lainnya juga tengah memasuki tahap market test dan pengiriman sample product kepada calon buyer internasional.
My Coffeeza Indonesia dengan produk kopi Arabica Enrekang tengah menjalani proses dengan Indonesia Specialty Coffee (ISC) dan Indonesia Trading House Guangzhou/ITHG dari Tiongkok. Kopivolusi dengan produk kopi Arabica juga tengah menjajaki pasar bersama Dua DC Coffee dari Amerika Serikat.
Sementara PT Bunly Abadi Bersama dengan produk kacang mete tengah menjajaki pasar dengan Toko Indo dari Singapura dan Etoobai dari Amerika Serikat.
Melalui KKI 2026, Bank Indonesia Sulsel bersama berbagai pemangku kepentingan berkomitmen terus meningkatkan kapasitas, akses pembiayaan, dan daya saing UMKM agar mampu memperluas pasar hingga ke tingkat global.
Upaya tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat peran UMKM sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan. (*)









