Gamasi, MAKASSAR – KALLA kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat terdampak bencana dengan mengirimkan kapal kemanusiaan menuju Nusa Tenggara Timur (NTT). Kapal tersebut membawa sebanyak 800 paket bantuan sekaligus tim relawan yang terdiri atas dokter, perawat, guru, mekanik, hingga personel Kalla Rescue.
Armada KM Rania diberangkatkan dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Kamis (27/8/2026). Pelepasan kapal kemanusiaan tersebut dilakukan langsung oleh CEO Kalla, Solihin Jusuf Kalla.
Misi kemanusiaan ini merupakan kolaborasi sejumlah entitas KALLA, yakni Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla, Kalla Translog, Kalla Toyota, serta Palang Merah Indonesia (PMI).
Program Manager Humanity and Environment Care LAZ Hadji Kalla, Sapril Akhmady, mengatakan, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi salah satu prioritas utama dalam situasi bencana. Oleh karena itu, bantuan yang disiapkan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
“Prioritas diberikan kepada masyarakat di wilayah yang membutuhkan dan belum atau masih terbatas mendapatkan dukungan bantuan. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting agar bantuan yang diberangkatkan tidak hanya sampai ke lokasi terdampak, tetapi juga menjangkau mereka yang berada dalam kondisi paling membutuhkan,” ujar Sapril.
Sebanyak 800 paket bantuan yang dibawa dalam misi tersebut berisi sejumlah kebutuhan pokok, antara lain beras, mi instan, ikan kaleng kemasan, minyak goreng, dan air minum. Bantuan pangan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat selama masa tanggap darurat.
Corporate Communication & Sustainability Department Head KALLA, Nadya Tyagita, mengatakan, misi kemanusiaan tidak hanya berkaitan dengan pengiriman bantuan, tetapi juga memastikan proses distribusi dan pemanfaatannya dapat berjalan dengan baik di lapangan.
“Untuk mendukung penyaluran bantuan di lapangan, Kalla Rescue yang mengawal misi kemanusiaan ini juga dibekali perlengkapan operasional untuk pengolahan dan penyediaan makanan, mulai dari kompor dan tabung gas hingga peralatan memasak serta perlengkapan makan,” jelas Nadya.
Dukungan juga datang dari Kalla Toyota melalui penyediaan dua unit kendaraan operasional, masing-masing Toyota Hilux Double Cabin dan Toyota Hilux Rangga. Kalla Toyota turut mengirimkan dua mekanik untuk bergabung dalam tim relawan KALLA.
Sementara itu, Kalla Translog mendukung aspek logistik dengan memberangkatkan enam unit mobil komersial untuk membantu proses distribusi bantuan. Sebelumnya, sebanyak tujuh unit kendaraan box telah diberangkatkan lebih dahulu bersama tim PMI.
Keterlibatan Kalla Translog menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan dapat dimobilisasi dan didistribusikan secara efektif. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan logistik, Kalla Translog mengoptimalkan kapabilitas serta sumber daya yang dimiliki untuk mendukung kelancaran misi kemanusiaan tersebut.
Dukungan medis juga diberikan oleh PMI dan RS Faisal dengan mendelegasikan tenaga medis serta relawan. Selain tenaga kesehatan, turut dibawa berbagai kebutuhan medis berupa obat-obatan, antibiotik, serta vitamin dan suplemen untuk membantu masyarakat terdampak.
Dalam Misi Respons Bencana Gempa NTT tersebut, Kalla Rescue memberangkatkan sejumlah personel dari berbagai unit usaha KALLA. Mereka terdiri atas Kurniawan Djaya dan Muhammad Jumadi dari LAZ Hadji Kalla, Zainuddin Soadiq dari Bumi Karsa, Ilham dari Guru SMA Islam Athirah Bone, Muhammad Julianto dari Kalla Toyota Palu Martadinata, A. Muhammad Ali Kadri dari Kalla Aspal Mamuju, A. Mufthie Tri Anugrah dari Kalla Translog Manado, serta Muhammad Ali dari Kalla Toyota Baubau.
Selain itu, tim tenaga medis dari RS Faisal yang turut dalam misi ini yakni dr. Muhammad Haekal, dr. Andi Faisal, Sp.B., dan Ilham, Amd.Kep.
Melalui pengiriman kapal kemanusiaan ini, KALLA berupaya memastikan dukungan bagi masyarakat terdampak gempa NTT tidak hanya berhenti pada pengumpulan bantuan. Kolaborasi lintas unit usaha, relawan, dan tenaga medis diharapkan mampu memperluas jangkauan bantuan, terutama ke wilayah yang masih minim akses terhadap dukungan kemanusiaan. (*)









