Gamasi, Bali – Ikan layang tercatat sebagai salah satu komoditas yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Sulawesi Selatan.
Perkembangan harga komoditas pangan tersebut menjadi salah satu perhatian Bank Indonesia di tengah dinamika perekonomian regional yang masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian global.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menyampaikan bahwa perekonomian Sulawesi pada triwulan II 2026 tetap tumbuh positif meski menghadapi berbagai tekanan dan ketidakpastian ekonomi global.
Dalam paparannya, Rizki menyebut pertumbuhan ekonomi Sulawesi pada triwulan II 2026 berada di angka 5,53 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai sekitar 5,8 persen.
Dari sisi inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang terus mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Berdasarkan data yang dipaparkan, kelompok tersebut mencatat inflasi sebesar 1,15 persen secara bulanan (mtm), meningkat dibandingkan Juni 2026 yang berada di angka 0,16 persen.
Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD), inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat 2,92 persen, sedangkan secara tahunan mencapai 2,54 persen (yoy).
Salah satu komoditas yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan harga kelompok tersebut adalah ikan layang. Pergerakan harga komoditas pangan, termasuk ikan, menjadi perhatian karena dapat memengaruhi tekanan inflasi sekaligus daya beli masyarakat.
Menurut Rizki, pengendalian harga pangan perlu terus dilakukan melalui sinergi berbagai pihak, terutama untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan permintaan masyarakat.
Sementara itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi kawasan Sulawesi tidak terlepas dari perkembangan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Kondisi geopolitik, pergerakan harga komoditas, inflasi global, serta dinamika pasar keuangan menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.
“Ekonomi dunia tidak dalam keadaan baik-baik saja. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menurun dari 3,5 persen menjadi 3 persen,” ujar Rizki dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik turut memengaruhi lalu lintas perdagangan dan distribusi energi global, termasuk melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia.
Gangguan terhadap jalur perdagangan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan sejumlah komoditas. Harga minyak Brent, misalnya, disebut sempat mengalami kenaikan signifikan dan kembali berada di kisaran 92 dolar AS per barel.
Kenaikan harga komoditas global juga terlihat pada sejumlah komoditas lainnya, termasuk batu bara, nikel, dan minyak sawit. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap negara-negara yang memiliki ketergantungan terhadap perdagangan komoditas, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, tekanan inflasi global juga masih menjadi perhatian. Rizki menyebut inflasi pada negara berkembang diperkirakan berada di kisaran 4,2 persen, sementara negara maju sekitar 2,9 persen.
Situasi tersebut kemudian memengaruhi kebijakan bank sentral di berbagai negara, termasuk kebijakan suku bunga dan pasar keuangan global.
“Ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi. Aliran modal ke emerging market pada awal tahun menunjukkan capital outflow, meskipun dalam dua bulan terakhir mulai kembali masuk,” jelasnya.
Rizki juga menyoroti penguatan indeks dolar AS yang berdampak terhadap mata uang negara-negara berkembang. Penguatan dolar berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar negara emerging market, termasuk rupiah.
Sementara di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat 5,3 persen, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan terutama terlihat pada konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.
Namun demikian, investasi dan ekspor masih menunjukkan peningkatan sehingga turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk kawasan Sulawesi, Rizki menilai perlambatan pertumbuhan perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena struktur ekonomi sejumlah provinsi di kawasan ini masih berkaitan erat dengan sektor komoditas.
“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi pada triwulan II berada di 5,53 persen. Ini masih menunjukkan pertumbuhan yang positif, meskipun mengalami perlambatan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan investasi, konsumsi masyarakat, perdagangan, serta optimalisasi sektor-sektor produktif dan bernilai tambah.
Dengan kondisi global yang masih dinamis, Bank Indonesia terus mencermati berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan keuangan. Pengendalian inflasi, khususnya harga pangan seperti ikan layang, menjadi bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan di Sulawesi Selatan maupun kawasan Sulawesi secara keseluruhan. (*)




