Gamasi, BATAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat literasi keuangan digital di kalangan generasi muda sebagai langkah mendorong partisipasi masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi digital yang semakin pesat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) yang digelar di Politeknik Negeri Batam, 31 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti lebih dari 500 mahasiswa dari enam perguruan tinggi di Kota Batam.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengatakan generasi muda memiliki posisi strategis dalam perkembangan ekosistem keuangan digital di Indonesia.
Menurutnya, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mengambil bagian dalam transformasi tersebut secara produktif dan bertanggung jawab.
“Generasi muda Indonesia berada di momen yang sangat tepat, ekosistem keuangan digital kita sedang tumbuh luar biasa cepat, dan mereka punya kesempatan untuk menjadi bagian dari transformasi ini. Yang kita butuhkan adalah memastikan partisipasi itu dilandasi pemahaman yang kuat, bukan sekadar ikut arus,” kata Adi.
Ia menekankan, pemahaman terhadap keuangan digital menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi tidak hanya menghadirkan kemudahan dan peluang, tetapi juga membawa sejumlah risiko.
Risiko tersebut antara lain fluktuasi harga, keamanan digital, potensi penipuan, hingga faktor psikologis seperti Fear of Missing Out (FOMO). Kondisi ini dapat mendorong seseorang mengambil keputusan keuangan hanya karena mengikuti tren tanpa memahami konsekuensi yang mungkin muncul.
Karena itu, Adi mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar setiap keputusan terkait keuangan maupun investasi didasarkan pada pemahaman terhadap mekanisme, manfaat, dan risiko produk yang digunakan.
“Jangan mengambil keputusan hanya karena sedang tren. Kenali mekanismenya, pahami manfaat dan risikonya, serta pastikan menggunakan platform yang legal dan berizin,” ujarnya.
Pertumbuhan Ekosistem Keuangan Digital
Besarnya kebutuhan terhadap literasi tersebut tercermin dari terus berkembangnya aktivitas di sektor keuangan digital.
Hingga Juli 2026, tercatat terdapat 16 Penyelenggara Aset Keuangan Digital (PAJK) dengan total pengguna lebih dari 19 juta. Nilai transaksinya mencapai Rp15,35 triliun.
Sementara itu, terdapat delapan Penyelenggara Kecerdasan Artifisial (PKA) dengan total hit mencapai 184 juta dan total aset sebesar Rp564 miliar.
Di sektor aset kripto, jumlah akun konsumen di Indonesia hingga periode yang sama telah mencapai 22,93 juta akun. Nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang 2026 tercatat mencapai Rp171,12 triliun.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi digital sekaligus memperlihatkan kebutuhan terhadap masyarakat yang memiliki kecakapan dalam memahami dan mengelola risiko di ruang digital.
Dalam kegiatan DFL, OJK juga memperkenalkan perkembangan ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), termasuk aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA), stablecoin, serta peran Regulatory Sandbox OJK dalam memfasilitasi pengembangan inovasi keuangan.
Pemahaman terhadap perkembangan tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu memahami bagaimana inovasi keuangan bekerja serta potensi manfaat dan risikonya.
Generasi Muda Harus Jadi Pengguna yang Cerdas
Penguatan literasi keuangan digital menjadi semakin relevan di tengah karakter generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi dan berbagai layanan berbasis digital.
Kemudahan mengakses produk keuangan, investasi, maupun aset digital perlu diimbangi kemampuan memilah informasi dan mengenali risiko. Dengan demikian, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan inklusi keuangan, bukan justru menimbulkan kerugian akibat keputusan yang tidak didasari pengetahuan.
Untuk memperluas pemahaman tersebut, DFL di Politeknik Negeri Batam juga menghadirkan panel diskusi bertema “Mengenal Ekosistem ITSK, Kripto, Tokenisasi RWA, dan Stablecoin.”
Panel tersebut menghadirkan Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Lutfi Alkatiri, Direktur Eksekutif Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) Kirana Soehaimi, serta Anggota Departemen PKA Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Riza Mauly Kristanto, dengan moderator dari Politeknik Negeri Batam.
Melalui kegiatan tersebut, OJK mendorong mahasiswa untuk melihat perkembangan keuangan digital secara lebih kritis. Literasi tidak hanya diarahkan agar generasi muda mengetahui berbagai produk dan teknologi keuangan, tetapi juga mampu mempertimbangkan aspek keamanan, legalitas, manfaat, dan risiko sebelum mengambil keputusan.
Dengan literasi yang semakin kuat, generasi muda diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi digital Indonesia yang inovatif, inklusif, aman, dan bertanggung jawab. (*)









