Gamasifm, Makassar – Perkembangan Perbankan di Sulawesi Selatan posisi April 2022 tumbuh positif, ditopang fungsi intermediasi yang tinggi dan disertai tingkat risiko yang tetap aman.
Hal ini disampaikan dalam Journalist Update Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6, terkait Publikasi Kinerja Perbankan di Wilayah Sulawesi Selatan dan Kegiatan Bulan Inklusi Keuangan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Selasa (7/6/2022).
Kepala OJK Regional 6 Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua Darwisman menilai, Industri perbankan masih tumbuh positif dengan kinerja intermediasi perbankan yang tetap tinggi.
“Total aset perbankan di Sulsel posisi April 2022 tercatat positif dengan tingkat pertumbuhan sebesar 6,09% yoy dengan nominal mencapai Rp166,51 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara nasional yang tercatat sebesar 5,01%, ” Jelas Darwisman.
Sementara itu, Penghimpunan dana pihak ketiga provinsi Sulawesi Selatan tumbuh positif sebesar 5,50% dengan nominal 113,87 triliun demikian pula penyaluran kredit tumbuh 4,97% yoy dengan nominal 131,85 triliun.
Menariknya menurut Darwisman, Ditengah kondisi pandemi, indikator fungsi intermediasi yang tercermin dari rasio LDR tercatat sebesar 114,98%, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga sebesar 3,57%.
Berdasarkan kegiatan usaha, share aset perbankan di provinsi Sulawesi Selatan masih didominasi oleh bank konvensional sebesar 93,24%, sementara aset perbankan syariah tercatat sebesar 6,76%.
Namun demikian share aset perbankan syariah di provinsi Sulawesi Selatan lebih tinggi dibandingkan share aset perbankan syariah secara nasional yakni sebesar 6,70%.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit produktif tumbuh 5,82% secara yoy dengan nominal mencapai Rp70,80 triliun dan kredit konsumtif tumbuh 4,01% secara yoy dengan nominal mencapai Rp61,05 triliun.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi oleh sektor perdangan besar dan eceran sebesar Rp35,46 triliun (26,89%), sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp9,31 triliun (7,06%), dan sektor industri pengolahan sebesar Rp5,29 triliun (4,01%).
Berdasarkan PDRB, lapangan usaha yang mendominasi di provinsi Sulawesi Selatan adalah sektor pertanian dengan share 19,49% dan sektor pengolahan dengan share sebesar 14,21%.
Sehingga masih terdapat ruang bagi Lembaga Jasa Keuangan untuk melakukan penyaluran kredit kepada sektor-sektor dimaksud dan OJK senantiasa mendorong percepatan akses keuangan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Terkait Kredit UMKM, saat ini mengalami pertumbuhan sebesar 24,86% dengan nominal mencapai Rp51,80 triliun dan rasio NPL tercatat sebesar 4,74%.
” Adapun pangsa pasar kredit UMKM mencapai 40,07% dari total kredit dengan jumlah debitur 877.207 rekening. Secara agregat penyaluran kredit UMKM Sulsel telah mencapai target yakni sebesar 30%, OJK akan terus mendorong pemenuhan rasio kredit UMKM sebesar 30% di level individu Bank secara bertahap sampai 2024,” sebutnya. (*)









